Merengek Karena Nikmatnya di Entot | Sex Terbaru
Situs BandarQ
Agen Bola Bandar Poker Domino QQ Bandar Bola BandarQ RGOBET AFAPOKER

Merengek Karena Nikmatnya di Entot

<center>

Akhir tahun lalu aku mempunyai kisah sex, itu semua berawal dari iseng isenganku membuka situs dewasa, aku adalah serotang ibu rumah tangga yang sudah menikah dan di karuniai anak 2, pertama dia bersekolah di kelas 2 SMP dan satunya masih TK , sekarang usiaku sudah berkepala 4 dengan suami yang bekerja menjadi PNS , kehidupan rumah tangga sudah cukup bahagia

Tapi sejak kejadian-kejadian ini, aku merasa sebagai wanita berdosa yang tak lagi mampu menghindari dosa bersetubuh dengan laki-laki yang bukan suami sendiri. Membayangkan kejadian-kejadian tersebut aku selalu ingin menangis tapi pada saat yang sama aku juga didera oleh nafsu birahi membara yang tak mampu aku atasi.

cerita sex selingkuh hot, kisah mesum tante selingkuh, selingkuh tante, tante ngentot anak abg, cerita dewasa tante horny, mesum tante sange, kumpulan cerita kentu tante hot, kisah seks tante binal

Kejadiannya adalah sebagai berikut. Saat itu sore hari sekitar jam tiga dan aku baru saja bangun tidur dan Sandy masih tertidur di sebelah saya. Sedangkan suami aku masih bekerja di kantor nya.
Dari dalam kamar aku dapat mendengar suara komputer yang dimainkan anak aku Agus di ruang tengah yang berbatasan langsung dengan kamar tidur saya.

Kami berlangganan internet (aku sering juga browsing di internet dan mahir menggunakan komputer) dan sedangkan Agus sering sekali menggunakan komputer, tapi aku tak tahu persis apa yang dimainkan. aku kira ia hanya main game saja. Pintu kamar aku agak terbuka.

Aku bermaksud untuk keluar dari kamar, tapi saat aku menarik pintu, apa yang terlihat membuat aku tertegun dan mengurungkan niat tersebut. Apa yang terlihat dari balik pintu membuat hati aku betul-betul terguncang.

cerita sex selingkuh hot, kisah mesum tante selingkuh, selingkuh tante, tante ngentot anak abg, cerita dewasa tante horny, mesum tante sange, kumpulan cerita kentu tante hot, kisah seks tante binal

Walau agak kurang jelas, aku masih dapat melihat di layar komputer tampak sosok wanita kulit putih telanjang tanpa busana dengan posisi terlentang dan kaki terbuka dengan kemaluan yang tampak jelas. aku menjadi kesal karena Agus yang masih anak-anak melihat hal-hal yang sangat terlarang tersebut.

Tapi yang kemudian membuat aku shock adalah setelah aku menyadari bahwa Agus sedang mengurut-urut kontolnya. Dari dalam kamar aku dapat melihat resleting celana Agus terbuka dan celananya agak turun. Agus sedang duduk melihat layar sambil mengusap-usap kontolnya yang tampak berdiri tegang dan kaku.

Sejak ia disunat lima tahun yang lalu saya, hampir tak pernah lagi melihat anak aku itu telanjang. Agus sudah dapat mengurus dirinya sendiri. Tinggi Agus sekitar 158 cm dan sudah hampir sama dengan tinggi aku yang sekitar 162 cm.

cerita sex selingkuh hot, kisah mesum tante selingkuh, selingkuh tante, tante ngentot anak abg, cerita dewasa tante horny, mesum tante sange, kumpulan cerita kentu tante hot, kisah seks tante binal

Samar-samar aku dapat melihat rambut kemaluannya yang tampaknya masih sedikit. aku betul-betul tercengang melihat semua ini. Kemaluannya memang tak berukuran besar tapi melihat demikian kakunya batang anak ini membuat aku tanpa sadar berdebar.

Batang kemaluannya tampak berwarna coklat kemerahan dengan urat-urat yang menonjol kebiruan. Samar-samar aku dapat mendengar napasnya yang terengah. Agus sama sekali tak menyadari bahwa aku sudah bangun dan melihat kelakuannya dari balik pintu.

Kejadian Agus membelai-belai kemaluannya ini berlangsung terus selama lebih kurang empat-lima menit lamanya. Yang mengagetkan adalah reaksi kewanitaan tubuh saya, ternyata jantung aku terasa berdebar keras menyaksikan batang kemaluan yang demikian kaku dan berwarna semakin merah, terutama bagian kepalanya.

Pandangan aku beralih-alih dari kemaluan wanita telanjang di layar komputer ke batang anak aku sendiri yang terus diusap-usapnya. Gerakan tangannya semakin cepat dan mencengkeram bagian kemaluannya dengan muka yang tampak tegang memandangi layar monitor. Kepala batang yang mengeras itu tampak diremas-remasnya.

Astaga .., dari lubang di kemaluannya berleleran keluar cairan bening. Cairan kental bening tersebut diusap-usap oleh jari Agus dan dioles-oleskan ke seluruh kemaluannya. Kini ia juga menekan-nekan dan meremas kantung pelir dan dimainkannya bolanya.

Kemaluan itu kini tampak basah dan berkilap. Napas Agus terdengar sangat keras tapi tertahan-tahan. aku merasa napsu birahi aku muncul, tubuh aku mulai gemetar dan darah mengalir di dalam tubuh dengan deras. Napas sayapun mulai tak teratur dan aku berusaha agar napas aku tak terdengar oleh Agus.

Apa yang aku lihat selanjutnya membuat aku sangat tergetar. Tubuh Agus tampak mengejang dengan kakinya agak terangkat lurus kaku, sementara tangannya mencengkeram batang kemaluan itu sekuat-kuatnya.

“Eeegh, heeggh .”, Agus mengerang agak keras, dan ya ampun …, yang tak aku sangka-sangka akhirnya terjadi juga. Dari lubang di kepala batang kemaluannya terpancar cairan putih kental. Agus yang aku anggap anak kecil itu memuncratkan air mani.

Cairan kental itu memuncrat beberapa kali. Sebagian jatuh ke perutnya tapi ada juga yang ke lantai dan malah sampai ke keyboard komputer. Tangan Agus mencengkeram kontol yang memerah itu dan menariknya sekuatnya ke pangkal batang.

Ohhh .., kontol itu tampak kaku, tegang, urat-urat menonjol keluar, mani muncrat keatas. Melihat air mani muncrat seperti itu segera saja aku merasakan lonjakan birahi yang luar biasa di sekujur tubuh saya. memek aku terasa menjadi basah dan napas aku menjadi tersengal sengal

Aku berusaha mengendalikan diri dari rangsangan birahi sebisa-bisanya, ada semacam perasaan tak enak dan bersalah yang tumbuh menyaksikan anak aku dan terutama atas reaksi tubuh aku seperti ini. Agus masih terus mengurut-urut batang kontolnya dan air mani yang tersisa tampak mengalir sedikit-sedikit dari lubang kencing di kepala kontolnya.

Agus melumuri permukaan kontolnya dengan air mani tadi dan terus menggosok-gosok kontolnya. Kini kontol itu tampak diselimuti oleh mani berwarna keputihan. Samar-samar aku dapat mencium bau mani yang bertumpahan karena jarak aku dengan Agus sebetulnya sangat dekat hanya dua meteran.

Agus tampak mulai tenang dan napasnya semakin teratur. kontol yang berleleran air mani mulai mengendur. Ia menghela napas panjang dan tampak lega terpuaskan. kontol itu sekarang tampak terkulai kecil dan lemah berwarna kecoklatan, sangat berbeda dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Agus kemudian berdiri dan menuju ke kamar mandi. Ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Seolah-olah ada yang menuntun, aku berjingkat menuju komputer tanpa menimbulkan bunyi. aku memandang lekat ke layar komputer, mengagumi tubuh wanita muda berkulit putih (orang Barat) yang telah mengundang nafsu anak saya. Tanpa sadar aku menghela napas melihat kemaluannya. Rambut jembutnya berwarna kecoklatan tampak tertata seperti pernah dicukur.

Sesuatu yang tak pernah aku lakukan pada rambut kemaluan aku dan tak pernah terpikirkan untuk melakukannya. Pandangan aku beralih ke tetesan-tetesan mani yang tampak di dekat keyboard. aku mengusap mani tersebut dengan jari dan entah mengapa aku mencium dan menjilati jari tangan aku yang berleleran dengan mani.

Rasanya asin dan baunya terasa lekat, tapi nafsu birahi aku terbangkit lagi. aku tak ingin Agus curiga. Dari layar komputer aku melihat address internetnya adalah. (tak perlu aku sebutkan) dan aku catat saja di dalam hati.

Aku berjingkat masuk kamar dan membaringkan tubuh. Tak lama aku dengar Agus kembali ke komputernya dan aku kira ia sedang membersihkan sisa-sisa mani yang tadi ia muncratkan. Kemudian aku dengar ia bermain game (kedengaran dari bunyi nya).

Lima belas menit kemudian aku pura-pura baru saja terbangun dan keluar dari kamar. Sikap Agus tampak agak canggung tapi aku kira ia yakin bahwa kejadian tadi tak aku ketahui. aku sendiri bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.

Sejak saat itu aku merasa ada perubahan luar biasa pada diri saya. Sebelumnya aku melakukan hubungan sex dengan suami hanyalah sebagai suatu hal yang rutin saja. Kejadian Agus melakukan onani didepan computer membuat aku menemukan sesuatu yang baru dalam hal soal sex.

Sesuatu yang menggairahkan, nafsu birahi yang menggelegak, tapi sekaligus perasaan dosa, karena ini dibangkitkan oleh kejadian yang dilakukan anak aku sendiri. Apa yang dilakukan anak aku membuat aku shock, tapi yang juga mengerikan adalah justru anak aku sendiri membangkitkan nafsu birahi aku yang menyala-nyala.

Agus yang selalu aku anggap anak masih kecil dan tak mungkin berhubungan dengan hal hal yang berbau sex dan porno. Selalu terbayang di mata aku wajah Agus dengan napas terengah engah dan muka tegang, kocokan tangannya, batang kontol yang berwarna kemerahan sangat tegang dengan urat yang menonjol. Air mani yang memuncrat-muncrat dari lubang kontolnya. Ya Tuhan .. , kontol itu adalah milik anak saya.

Sejak kejadian itu aku sering terbayang kontol Agus yang sedang memuncrat – muncratkan air maninya. Kontol yang kaku itu tak berukuran besar, menurut aku tak terlalu panjang dan besar menurut usianya.

Tapi yang tak dapat aku lupakan adalah warnanya yang kemerahan dengan urat-urat hijau kebiruan yang menonjol. Saat itu kontol itu begitu tegang berdiri hampir menyentuh perutnya. Jika mengingat dan membayangkan kejadian itu, birahi aku mendidih, terasa ada cairan merembes keluar dari lubang kemaluan saya.

Hal lain yang memperparah keadaan adalah, sejak hari kejadian itu, aku mulai berkenalan dengan dunia baru yang tak pernah aku datangi sebelumnya. aku sudah biasa browsing di Yahoo ataupun yang lain. Tapi sejak mengenal Cerita Dewasa aku mulai mengarungi dunia lain di internet.

Sehari sesudah kejadian Agus onani, aku mulai membuka-buka situs Cerita Dewasa Tentu saja itu aku lakukan pada saat tak ada orang di rumah. Pembantu saya, setelah melakukan tugas didalam rumah, biasanya selalu mendekam dikamarnya. Agus belum pulang dari sekolahnya, sedangkan Suami aku masih di kantornya. aku hanya berdua dengan Sandy yang biasanya lebih senang bermain di kamar tidur.

Saat itulah aku mulai mencoba-coba Cerita Dewasa”aku tak menyangka ada suatu situs internet menyajikan cerita dan gambar pornografi yang seperti itu. aku membuka – buka gambar wanita-wanita telanjang yang tampak tak malu-malu memperagakan bagian kewanitaannya yang seharusnya ditutup rapat rapat. Mereka tampaknya menikmati apa yang mereka lakukan dengan mempertontonkan bagian tubuhnya yang terlarang.

Pada hari itu aku mulai juga menemukan situs-situs lain yang lebih porno. Ada sekitar 3 jam aku berpindah-pindah dan mempelajari dunia sexual penuh nafsu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Laki-laki dan perempuan bersetubuh dengan berbagai macam cara yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya dan yang tak pernah aku praktekkan sebelumnya dengan suami.

Ada perempuan yang menghisap kontol berukuran sangat besar (kelihatannya lebih besar dari kontol suami saya) hingga kontol itu memuntahkan air maninya. Astaga, perempuan itu membiarkan mani itu muncrat sampai membasahi wajahnya, berleleran, dan bahkan meminumnya tanpa ada rasa jijik.
Sejak saat itu setiap hari aku menjelajahi internet.

Aku mempelajari semua bentuk sex yang ada di situs-situs itu. Kontol orang negro yang hitam legam dan panjang agak mengerikan bagi saya, tapi juga membangkitkan birahi saya. Membayangkan kontol hitam panjang itu menembus kemaluan wanita, panas dingin aku membayangkannya.

Yang betul-betul baru buat aku adalah anal-sex. aku meraba-raba dubur aku dan berpikir apakah tak menyakitkan. Tapi wanita-wanita dengan lubang dubur yang menganga dan tertembus kontol itu tampaknya terlihat nikmat nikmat saja.

Tapi yang paling membangkitkan birahi aku adalah persetubuhan orang Jepang. Mungkin karena mereka sama-sama orang Asia, jadi tampak lebih real dibandingkan dengan wanita kulit putih. Dan mungkin ada kesan surprise juga bagi saya, bahwa orang-orang Jepang yang tampak sopan itu dapat begitu bernafsu di dalam sex.

Aku memang bukan orang keturunan Chinese, tapi kulit aku cukup putih untuk ukuran orang Indonesia. Jadi aku melihat semacam ada kesamaan antara diri aku dengan wanita Jepang itu walau tentunya kulit aku tak seputih mereka. Yang agak surprise adalah rambut kemaluan wanita wanita Jepang yang cenderung hitam lebat, tak dicukur seperti kebanyakan orang kulit putih.

Wanita Jepang juga memiliki kulit kemaluan, bibir-bibir memek yang berwarna gelap kecoklatan, mirip seperti kemaluan aku sendiri (Ya Allah, aku sampai menuliskan hal-hal seperti ini, ampun ya Allah).
Aku juga mendapatkan suatu situs dewasa di mana wanita-wanita muda Jepang mengisap kontol hingga muncrat dan air mani yang sangat banyak berleleran di mukanya yang berkulit putih. aku selalu panas dingin melihat itu, dan tanpa sadar aku membayangkan lagi kontol kecil Agus yang tegang dan memuncratkan air maninya.

Kehidupan sex internet yang paling memabukkan aku adalah cerita-cerita nafsu di Cerita Dewasa”dan melebihi segala suguhan gambar sex yang ada. aku sangat terangsang membaca cerita-cerita menakjubkan itu.

Tak aku sangka bahwa kehidupan sex orang-orang Indonesia dapat seliar dan juga seindah itu. Yang paling merangsang dan membuat aku agak histeris adalah cerita sex antara orang yang masih sedarah, seperti antara tante dengan keponakan, antara sepupu, saudara ipar, atau malah antara anak dan mertua.

Mungkin ini karena perasaan aku terhadap Agus anak saya. Di situs lain, aku pernah membaca cerita sexual antara anak dengan ibunya. aku sampai menangis membaca cerita itu, tapi juga sekaligus merasakan birahi yang luar biasa. Ini tak berarti bahwa aku berniat menyetubuhi anak aku sendiri, aku takut atas dosanya.

Namun tak dapat aku pungkiri, bahwa aku terkadang membayangkan kontol Agus yang sangat kaku itu masuk ke dalam memek saya. aku selalu mohon ampun di tiap doa dan sembahyang, tapi pada saat sama aku juga tak berdaya. aku mulai membayangkan laki-laki dari keluarga dekat saya, ipar-ipar saya.

Aku kira kejadian berikutnya yang akan aku ceritakan adalah takdir yang tak dapat aku hindarkan. aku begitu lemah dari godaan setan dan sangat menikmati apa yang aku perbuat.

Kejadian itu adalah pada sore hari sekitar jam setengah empat, beberapa minggu setelah kejadian aku memergoki Agus beronani, kalau tak salah dua atau tiga hari menjelang bulan puasa Ramadhan. aku baru saja selesai Ashar. Sebelumnya aku baru menutup internet, membaca cerita-cerita di Cerita Dewasa Dengan shalat aku merasa agak tenang. Pada saat shalat itu akan selesai, aku mendengar ada ketukan pintu, ada tamu. Apa boleh buat, si tamu harus menunggu aku selesai.

Sesudah selesai shalat aku intip dari dalam, ternyata ia adalah Budi. Ia adalah suami dari ipar (adik suami) saya. aku sangat dekat dengan Dian, istri Budi. aku juga mempunyai hubungan baik dengan Budi. Ia berumur kira-kira 36 tahun, berwajah tampan dengan kulit putih dan kuakui lebih tampan dari suami saya. Perawakannya tak tinggi, hanya sekitar 164 cm, hampir sama dengan tinggi saya. ia bekerja di instansi yang sama dengan suami aku (mungkin hasil kkn ya ?)

Melihat Budi di luar aku jadi agak terburu-buru. Biasanya aku menemui orang yang bukan suami dan anak (atau wanita) selalu dengan mengenakan pakaian wanita rapi dan tertutup rapat. Karena terburu-buru dan tanpa aku sadari, aku hanya mengenakan baju tidur berkain halus warna putih sebatas lutut berlengan pendek dengan kancing-kancing di depan.

Untung aku masih sempat mengenakan secarik kain selendang warna hitam untuk menutup kepala, bukan jilbab, tapi seperti selendang tradisional yang diselempangkan di kepala hanya untuk menutup rambut. Leher aku terbuka dan telinga aku terlihat jelas. Apa boleh buat aku tak dapat membiarkan Budi menunggu aku didepan rumah terlalu lama.

Aku membuka pintu. Budi tersenyum melihat aku walaupun aku tahu ia agak heran melihat aku tak berpakaian seperti biasanya.

“Apa kabar kak Win”, sapanya, “Aku membawakan titipan pakaian dari Dian, untuk Sandy “.

“Eh, ayo masuk Bud, baru dari kantor ya ?”, dan aku persilakan ia masuk.

Aku lalu mengambil barang yang dibawa Budi dan meletakkannya di meja makan. Meja makan terletak di ruang tengah tak jauh dari meja komputer. Ruang tengah berhubungan langsung tanpa pembatas dengan ruang tamu di bagian depan dan dapur di bagian kiri.

Dapur dapat terlihat jelas dari ruang tamu.

Sambil duduk di sofa ruang tamu, Budi mengatakan “Aku tadi ketemu kak Kamal di kantor katanya baru pulang jam enam nanti”. Kamal adalah suami saya. “Mana anak-anak, Win ?”, kata Budi lagi.

“Agus sedang main ke rumah teman dari siang tadi dan katanya mungkin baru pulang agak malam” kata saya. Tiba-tiba aku menyadari bahwa kami hanya berdua saja. Terus terang, Budi dan Dian adalah kerabat yang paling aku sukai karena perangai mereka berdua yang sopan dan terbuka.

Aku duduk di sofa di seberang agak ke samping dari kursi sofa yang diduduki Budi. Pada saat aku mulai duduk aku baru menyadari agak sulit untuk duduk dengan rapi dan tertutup dengan pakaian yang aku kenakan. Posisi alas duduk sofa cukup rendah sehingga pada saat duduk lutut terasa tinggi dibandingkan dengan pantat.

Jadi bagian bawah paha aku agak terangkat sedikit dan agak sulit tertutup sempurna dengan pakaian seperti yang aku kenakan dan pada saat duduk ujung pakaian tertarik sedikit ke atas lutut. Budi tampak agak terkesiap melihat saya.

Sekilas ia melirik ke lutut dan paha aku yang memang putih dan tak pernah kena sinar matahari (aku selalu berpakaian muslim ke luar rumah). aku agak malu dan canggung (aku kira Budi juga tampak agak canggung). Tapi kami sudah bukan remaja lagi dan dapat menguasai diri.

“Apa kabar Dian, Bud”, tanya saya.

“Dian beberapa hari ini kurang sehat, kira-kira sudah semingguan lah”, kata Budi.

“Bagaimana Agus, Win ?, apa enggak ada pelajaran yang tertinggal ?”, Budi balik bertanya.

“Yah, si Agus sudah mulai oke koq dengan pelajarannya. Mudah-mudahan saja sih prestasinya terus-terusan bagus”, aku jawab.

Tiba-tiba Budi bilang ” Wah, kayak-kayaknya Agus semakin getol main komputernya yah Win, kan sudah hampir SMA”. Deg perasaan saya, semua pengalaman internet jadi terbayang kembali. Terutama terbayang pada Agus saat ia beronani di depan komputernya.

“Eh, kenapa kak Win, koq kaya seperti orang bingung sih ?”, Budi melihat perubahan sikap saya.

“Ah, tak apa-apa kok. Tapi si Agus memang sering sekali main komputer.” kata saya. aku mendadak merasakan keberduaan yang mendalam di ruangan itu. aku merasa semakin canggung dan ada perasaan berdebar. Untuk menghindar dari perasaan itu aku menawarkan minum pada Budi, “Wah lupa, kamu mau minum apa Bud ?”.

“Kalau tak merepotkan, aku minta kopi saja deh”, kata Budi. aku tahu, Budi memang paling suka minum kopi.

Aku bangkit berdiri dari sofa. Tanpa aku sengaja, paha dan kaki aku sedikit terbuka pada saat aku bangun berdiri. Walaupun sekilas, aku melihat pandangan mata Budi melirik lagi ke paha saya, dan tampak agak gugup. Apakah ia sempat melihat bagian dalam paha saya, pikir aku di dalam hati.

“Tunggu sebentar ya..”, kata aku ke Budi. Sebelum membuat kopi untuk Budi, aku ke kamar tidur dulu untuk menengok Sandy. Sambil menuju ke kamar aku melirik sebentar ke arah Budi. Budi tampak tertunduk tapi tampak ia mencuri pandang ke arah saya.

Aku tersadar bahwa penampilan pakaian aku yang tak biasanya telah menarik perhatiannya. Terutama sekali mungkin karena posisi duduk aku tadi yang sedikit menyingkap bagian bawah pakaian saya. aku yang terbiasa berpakaian muslim tertutup rapat, ternyata dengan pakaian seperti ini, yang sebenarnya masih terbilang sopan, telah mengganggu dan menggugah (sepertinya) perhatian Budi. Menyadari ini aku merasa berdebar-debar kembali, dan tubuh aku terasa seperti dialiri perasaan hangat.

Anak aku Sandy masih tertidur nyenyak dengan damainya. Tanpa sengaja aku melihat cermin lemari pakaian dan menyaksikan penampilan aku di kaca yang membuat aku terkesiap. Ternyata pakaian yang aku kenakan tak dapat menyembunyikan pola pakaian dalam (bra dan celana dalam) yang aku kenakan.

Celana dalam yang aku pakai terbuat dari bahan (agak tipis) berwarna putih sedangkan kutangnya berwarna hitam. Karena pakaian yang aku kenakan berwarna putih dan terbuat dari bahan yang agak halus maka celana dalam dan bh tadi tampak terbayang dari luar. Ya ampun ., aku tak menyadari, dan tentunya Budi dapat melihat dengan leluasa.

Aku menjadi merasa agak jengah. Tapi entah mengapa ada perasaan lain yang muncul, aku merasa sexy dan ada perasaan puas bahwa Budi memperhatikan penampilan aku yang sudah cukup umur ini. Tubuh aku tampak masih ramping dengan kulit yang putih. Kecuali bagian perut aku tampak ada sedikit berlemak.

Budi yang aku anggap sopan dan ramah itu ternyata memperhatikan tubuh dan penampilan aku yang sebetulnya sudah tak muda lagi. aku merasa nakal dan tiba-tiba perasaan birahi itu muncul sedikit demi sedikit. Bayang-bayang persetubuhan dan sex di internet melingkupi saya. Oh., bagaimana ini.. Aduh ., birahi ini, apa yang harus dilakukan.

Aku jadi tak bisa berpikir lurus. aku berusaha menenangkan diri tapi tak berhasil. Akhirnya aku putuskan, aku akan melakukan sedikit permainan, dan kita lihat saja apa nanti yang akan terjadi. aku merasa jatuh ke dalam takdir.

Dengan dada berdebar, perasaan malu, perasaan nakal, dan tangan agak gemetar, aku membuka kancing baju aku yang paling bawah. Bagian bawah dari baju aku sekarang tersibak hingga 15 cm di atas lutut.

Mungkin bukan seberapa, tapi bagi aku sudah lebih dari cukup untuk merasakan kenakalan birahi. Satu lagi kancing baju yang paling atas aku buka sehingga bagian atas yang mulai menggunduk dari susu aku mulai terlihat. Payudara aku tak besar, berukuran sedang-sedang saja. Sambil berdebar-debar aku keluar kamar menuju dapur.

“Wah maaf ya Bud, agak lama, sekarang aku buat dulu kopinya.” kata saya. aku dapat merasakan Budi memandang aku dengan perhatian yang lebih walaupun tetap sangat sopan. Ia tersenyum, tapi lagi-lagi pandangannya menyambar bagian bawah tubuh saya.

Aku tahu bahwa untuk setiap langkah saya, pakaian bawah aku tersibak, sehingga ia dapat melihat bagian paha aku yang mulai sangat memutih, kira-kira 20 cm di atas lutut. aku merasa sangat sexy dan nakal, dibarengi dengan birahi. Saat itu aku tak ingat lagi akan suami dan anak. Pikiran aku sudah mulai diselimuti oleh nafsu berahi.

Aku berpikir untuk menggoda Budi. aku membuka lemari dapur dan membungkuk untuk mengambil tempat kopi dan gula. aku sengaja membungkukkan pinggang ke depan dengan menjaga kaki tetap lurus. Baju aku bagian belakang tertarik ke atas sekitar 20 cm di atas lipatan lutut dan celana dalam tercetak pada baju karena ketatnya.

Aku dapat merasakan Budi memandangi tubuh aku terutama pantat dan paha saya. Kepuasan melanda aku yang dapat menarik perhatian Budi. aku merasa Budi selalu melirik-lirik aku ke dapur selama aku menyiapkan kopi.

Secangkir kopi yang masih panas aku bawa ke ruang tamu. Tepat di depan sofa ada meja pendek untuk meletakkan penganan kecil atau pun minuman. aku berjongkok persis di seberang Budi untuk meletakkan kopi. aku berjongkok dengan satu lutut di lantai sehingga posisi kaki agak terbuka.

Samar-samar aku mendengar Budi mendesis. Sambil meletakkan kopi aku lirik dia, dan ternyata ia mencuri pandang ke arah paha-paha saya. aku yakin ia dapat melihat nyaris ke pangkal paha aku yang tertutup celana dalam putih. Sambil berjongkok seperti itu aku ajak ia ngobrol.

“Ayo di minum kopinya Bud, nanti keburu dingin”, kata saya.

“Oh, ya, ya, terima kasih”, kata Budi sambil mengambil kopi yang memang masih panas, sambil kembali pandangannya menyambar ke arah bagian dalam paha saya.

“Apa tak berbahaya terlalu banyak minum kopi, nanti ginjalnya kena”, tanya aku untuk mengisi pembicaraan.

“Memang sih, tapi aku sudah kebiasaan”, kata Budi. Sekitar tiga menitan aku ngobrol dengan Budi membicarakan masalah kopi, sambil tetap menjaga posisi saya. aku lihat Budi mulai gelisah dan mukanya agak pucat. Apakah ia terangsang, tanya aku dalam hati.

Aku kemudian bangkit dan duduk di sofa di tempat semula aku duduk. aku duduk dengan menyilangkan kaki dan menumpangkan paha yang satu ke atas paha yang lain. aku melihat lagi Budi sekilas melirik ke bagian tubuh aku .

“Hemmhhh ..”, aku mendengar Budi menghela napas. Bagian bawah baju aku tertarik jauh ke atas hingga setengah paha, dan aku yakin Budi dapat melihat paha aku yang terangkat (di atas paha yang lain) hingga dekat ke pantat saya.

Kami terdiam beberapa saat. Secara perlahan aku merasakan memek aku mulai berdenyut. Suasana ini membuat aku mulai terangsang. Pandangan aku tanpa terasa menyaksikan sesuatu yang mengguncang dada. aku melihat mulai ada tonjolan di celana Budi di bagian dekat pangkal paha.

Dada aku berdebar-debar dan darah terasa mendesir. aku tak sanggup mengalihkan pandangan aku dari paha Budi. Astaga, tonjolan itu semakin nyata dan membesar hingga tercetaklah bentuk seperti batang pipa. Oh., ukuran tonjolan itu membuat aku mengejang. aku merasa malu tapi juga dicengkeram perasaan birahi. Muka aku terasa memerah. aku yakin Budi pasti menyaksikan aku memandangi tonjolan kontolnya.

Untuk memecahkan suasana diam aku berusaha mencari omongan. Sebelumnya aku agak menyandar pada sofa dan menurunkan kaki aku dari kaki yang lain. Sekarang aku duduk biasa dengan paha sejajar agak terbuka. Bagian bawah baju aku tertarik ke atas.

“Ehhheeehh”, terdengar desah Budi. Kini ia dapat melirik dan menyaksikan dengan leluasa kedua belah paha aku hingga bagian atas. Sebagai seorang ibu yang sudah beranak, paha aku cukup berisi dengan sedikit lemak dan berwarna putih. Budi seolah tak dapat mengalihkan pandangannya dari paha saya. Ohhhh .., aku lihat tonjolan di celananya tampak berdenyut. aku merasakan nafsu yang menggejolak dan pumya keinginan untuk meremas tonjolan itu.

“Eh .. Bud, kenapa kamu? Kamu kok kayaknya pucat lho”, astaga suara aku terdengar gemetar.

“Ah.., kak Win .., enggak … apa-apa kok”, suara Budi terputus-putus, wajahnya agak tersipu, merah dan tampak pucat.

“Itu kok ada tonjolan, memangnya kamu kenapa?”, kata aku sambil menggangukkan kepala ke tonjolan di celananya. Ahh, aku malu sekali waktu mengucapkan itu, tapi nafsu aku mengalahkan semua pikiran normal.

“Ehh.., euuuh., oh yahh ., ini lho, penampilan kak WIN beda sekali dengan biasanya” kata Budi jujur sambil terbata-bata. aku paksakan diri untuk mengatakan.

“Apa Budi tertarik . terangsang .. melihat kak Win?”.

“Ahh, aku nggak bisa bohong, penampilan kak Win .. eh . tak biasanya. Kak Win mesti sudah bisa lihat kalau aku terangsang. Kita kan sudah bukan anak kecil lagi” kata Budi.

Tiba-tiba saja Budi berdiri dan duduk di sebelah saya.

“Kak Win, . eh aku mohon mohon maaf, tapi aku tak sanggup menahan perasaan. Kak Win jangan marah … ” begitu saja meluncur kata-kata itu dari Budi. Ia mengucapkan dengan sangat perasaan dan sopan. aku terlongong-longong saja mendengar kata – katanya..

“Ahh .. Bud .”, hanya itu kata yang terucap dari mulut saya. Dengan beraninya Budi mulai memegang tangan kanan aku dan mengusap-usapnya dengan lembut. Diangkatnya tangan aku dan diciumi dengan lembut. Dan yang menggairahkan saya, jari-jari tangan aku dijilat dan dihisapnya.

Aku terbuai dan terangsang oleh perbuatannya. Tiba-tiba saja diletakkannya tangan aku tepat di atas kontolnya yang menonjol. Tangan aku terasa mengejang menyentuh benda yang keras dan liat tersebut. Terasa kontol Budi bergerak-gerak menggeliat akibat sentuhan dan remasan tangan saya.

“Eehhmm.” Budi mendesah. Tanpa terasa aku mulai meremas-remas tonjolan itu, dan kontol batang Budi terasa semakin bergerak-gerak.

“Oooh kak Win, eeehhhmmm … ohhgg, nikmaat sekali .”, Budi mengerang.

“Eeehhh . jangan terlalu keras kak meremasnya, ahh .. diusap-usap saja, aku takut tak kuat nahannya”, bisik Budi dengan suara gemetar.

Budi mulai membelai kepala aku dengan kedua tangannya. “Kak Win lehernya putih sekali”, katanya lagi. aku merasa senang mendengar ucapannya. Dibelainya rambut aku dengan lembut sambil menatap muka saya.

Aku bergetar memandang tatapannya dan tak mampu melawan pandangannya. Budi mulai menciumi pipi saya. Dikecupnya kedua mata aku mesra. Digesek-gesekkannya hidungnya ke hidung aku ke bibir aku berlama-lama bergantian. Saat itu tak hanya birahi yang melanda aku .. tapi juga perasaan sayang yang muncul.

Ditempelkannya bibirnya ke bibir aku dan digesek-gesekkan. Rasa geli dan panas terasa menjalar merambat dari bibir aku ke seluruh tubuh dan bermuara ke daerah selangkangan. aku benar-benar terbuai. aku tak lagi mengusap-usap kontolnya dari balik celana, tapi kedua lengan aku sudah melingkari lehernya tanpa sadar.

Mata aku terpejam erat-erat menikmati cumbuannya. Tiba-tiba terasa lidahnya menerobos masuk mulut aku dan dijulurkannya menyentuh ujung lidah saya. Dijilatinya lidah aku dengan lidahnya.

“Eenggghh ..” Tanpa sadar aku menjulurkan lidah aku juga. Kini kami saling menjilat dan napas aku tersengal-sengal menikmati kelezatan rangsangan pada mulut saya. Air ludah aku yang mengalir dijilati oleh Budi. Seperti orang kehausan, ia menjilati lidah dan daerah bibir saya.

“Aaauungghh .. ooohhhh…”, aku mulai mengerang-erang. Napas Budi juga terdengar memburu,

“Heeeghh… hhnghh”, ia mulai mendesah-desah. Muka kami sekarang berlepotan ludah, bau ludah tercium tapi sangat aku nikmati. Dikenyot-kenyotnya lidah aku kini sambil menjelajahkan lidahnya di rongga mulut saya. aku membuka mulut aku selebar-lebarnya untuk memudahkan Budi.

Sekali-kali ia menghirup cairan ludah saya. aku tak menyangka, laki-laki yang sehari-hari tampak sopan ini sangat menggila di dalam sex. Dijilat-jilatnya juga leher saya. Sekali-kali leher aku digigit-gigit. Ohhh .., alangkah nikmatnya, aku sangat menikmati yang ia lakukan pada saya.

Tiba-tiba Budi menghentikan aktivitasnya, “Kak Win, pakaiannya aku buka yaahh”. Tanpa menunggu jawaban saya, ia mulai membuka kancing-kancing baju dari atas hingga ke bawah. Dilepaskannya baju saya. Sekarang aku tergolek bersandar di sofa hanya dengan BH dan celana dalam saja beralaskan baju yang sudah terlepas.

“Indah sekali badan kak Win. Putih sekali”, katanya. Diusap-usapnya perut saya.

“Ahh, kak Win sudah tua dan tak langsing lagi kok Bud”, kata aku agak sedikit malu, karena perut aku sudah agak gemuk dan mulai membusung dengan adanya lemak-lemak. Tapi Budi tampak tak perduli. Diciumnya lembut perut aku dan dijilatnya sedikit pusar saya. Rasa geli dan nikmat menjalar dari pusar dan kembali bermuara di daerah kemaluan saya.

Budi mengalihkan perhatiannya ke susu saya. Diusap-usapnya susu aku dari balik BH. Perasaan geli tapi nyaman terasa pada susu saya. Tanpa diminta aku buka BH saya. Kini kedua susu aku terpampang tanpa penutup.

Bayu memandangi kedua gundukan di dada aku dengan muka serius. Susu aku tidaklah besar dan kini sudah agak menggantung dengan pentil berwarna coklat muda. Kemudian ia mulai membelai-belai kedua susu saya. Merinding nikmat terasa susu saya. Semakin lama belaiannya berubah menjadi pijitan-pijitan penuh nafsu. Kenikmatan terasa menerjang kedua susu saya.

Aku mengerang-erang menahan rasa nikmat ini. Kini dijilatinya pentil susu yang sebelah kanan. Tak puas dengan itu dikenyotnya pentil tadi dalam-dalam sambil meremas-remas susu. aku tak dapat menahan nikmat dan tanpa terasa tubuh aku menggeliat-geliat liar. Cairan terasa merembes keluar memek aku dan membasahi celana dalam yang aku kenakan.

Kini Budi berpindah ke susu dan pentil aku yang sebelah kiri dan melakukan hal yang sama. Dikenyutnya pentil aku sambil digigit-gigit, dan diremas-remasnya pula kedua susu saya. Perasaan nikmat membakar susu aku dan semakin lama rasa nikmat itu menjalar ke lubang memek saya. memek aku terasa basah kuyup oleh cairan yang keluar. aku mengerang-erang dan mengaduh-aduh menahan nikmat, “Oooohh Buuuud..”.

Tangan Budi sekarang menjalar ke bagian celana dalam saya. “

Ahhh, kak Win celananya sudah basah sekali”, kata Budi. “Enghh, iya Buud.., kak Win sudah sangat terangsang, ooohhh, nikmat sekali”, kata saya. Tepat di bagian depan memek saya, jari-jarinya membelai-belai bibir memek melalui celana dalam.

Rasa geli bercampur nimat yang luar biasa menerjang memek saya. aku tak dapat menahan rasa nikmat ini, dan mengerang -erang.

Kemudian Budi menarik dan melepas celana saya. Kini aku tergeletak menyandar di sofa tanpa busana sama sekali.

“Ohh, indah sekali”, kata Budi. Diusap-usapnya rambut jembut aku yang hitam lebat.

“Lebat sekali kak, sangat merangsang”, kata Budi. Dibukanya kedua belah paha saya, dan didorong hingga lutut aku menempel di perut dan dada. Bibir-bibir memek aku kini terbuka lebar dan dapat aku rasakan lubang memek aku terbuka. aku merasa ada cairan merembes keluar dari dalam lubang memek. aku sudah sangat terangsang. Tiba-tiba saja Budi berlutut di lantai dan ohhhhh, diciumnya memek saya.

“Ahh, jangan Bud, malu…, di situ kan bau”, kata aku kagok.

“Bau nikmat kak”, kata Budi tak perduli. Dijilatinya memek saya. Perasaan nikmat menyerbu daerah selangkangan saya. aku tak dapat berkata apa-apa lagi dan hanya menikmati yang ia lakukan. Dijilatinya kelentit saya, dan sekali-sekali dijulurkannya lidahnya masuk ke lubang memek yang sudah sangat basah itu.

Ujung lidah Budi keluar masuk lubang kenikmatan saya, kemudian berpindah ke kelentit, terus berganti-ganti. Tangan Budi meremas-remas susu aku dengan bernafsu. Slerp, slerp .., bunyi lidah dan mulutnya di memek saya.

Kenikmatan semakin memuncak di memek saya, dan terasa menembus masuk hingga ke perut dan otak saya. aku tak mampu lagi menahannya. Kedua kaki aku mengejang-ngejang, aku menjepit kepala Budi dengan tangan dan aku tarik sekuat-kuatnya ke memek saya.

Aku gosok-gosokkan mukanya ke memek saya. “Oooh, Buuud, kak Win keluar, ooooohhh …, nikmat sekali, oohhhh” aku menjerit dan mengerang tanpa aku tahan lagi.

Rasa nikmat yang tajam seolah menusuk-nusuk memek dan menjalar ke seluruh tubuh. Terpaan nikmat itu melanda, dan tubuh aku terasa mengejang beberapa saat. Sesudah kenikmatan itu lewat, tubuh aku terasa lemah tapi lega dan ringan. Kaki aku terjuntai lemah. Budi sudah berdiri. Ia kini melepas seluruh bajunya. Celana panjang dipelorotkannya ke bawah dan dilepas bersama dengan celana dalamnya.

Oohhhhh, tampak pemandangan yang luar biasa. Budi ternyata memiliki kontol yang besar, tak sesuai dengan badannya yang sedang-sedang ukurannya. kontol itu berwarna coklat kemerahan. Suami aku bertubuh lebih besar dari Budi, tapi kontol Budi ternyata luar biasa. Astaga, ia mengocok-kocok kontol itu yang berdiri kaku dan terlihat mengkedut – kedut.

Kepala kontolnya tampak basah karena cairan dari lubang kencingnya. Tanpa aku sadari, tangan aku menjulur maju dan membelai kontol itu. Ogghhh besarnya, dan alangkah kerasnya. aku remas kepalanya, oohhhh .. Keras sekali, aku peras-peras kepalanya. Budi mengejang-ngejang dan keluar cairan bening menetes-netes dari lubang di kepala kontolnya.

“Ahhhhh, jangan kak Win, aku nggak tahan, nanti aku muncrat keluar”, bisiknya sambil mengerang.

“Aku mau keluarkan di dalam memek kak Win saja, boleh yahhh Kak ?”, kata Budi lagi.

“Ahh, iya, Buud .., cepetan masukin ke memek kak Win, ayoohh”, kata saya. kontol yang keras itu aku tarik dan tempelkan persis di depan lubang memek aku yang basah kuyup oleh cairan memek dan ludah Budi.

Tak sabar aku rangkul pantat Budi, aku jepit pula dengan kedua kaki saya, dan aku paksa tekan pinggulnya. Ahhhhh, lubang memek aku terasa terdesak oleh benda yang sangat besar, ohhhh dinding-dinding memek aku terasa meregang. Kenikmatan mendera memek aku kembali. kontol itu terus masuk menembus sedalam-dalamnya.

Dasar lubang memek aku sudah tercapai, tapi kontol itu masih lebih panjang lagi. Belum pernah aku merasakan sensasi kenikmatan seperti ini. aku hanya tergolek menikmati kebesaran kontol itu. Budi mulai meremas-remas susu aku dengan kedua tangannya. Tiba-tiba kontol itu mengenjot memek aku keluar masuk dengan cepatnya. aku tak mampu menahannya lagi, orgasme kembali melanda, sementara kontol itu tetap keluar masuk dipompa dengan cepat dan bertenaga oleh Budi.

“Aduuuhh, Buud, nikmat sekali.., aku nggak kuat lagi ..”. aku merengek-rengek karena nikmatnya.

“Hheehhhheh, sebentar lagi aku keluaaaar kaak ..”, kata Budi. Kocokannya semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba terasa tubuhnya menegang. “Ahhhuuuggh, aku keluar kaaaak .”, erang Budi tertahan-tahan. kontol Budi terbernam sedalam-dalamnya.

Crut .. cruutt . crutt, aku merasakan ada cairan hangat menyemprot jauh di dalam memek aku seolah tanpa henti. Budi memeluk aku erat-erat sambil menyemprotkan cairan maninya didalam memekku. Mukanya tampak menegang menahan kenikmatan. Ada sekitar satu menit ia meregang nikmat sambil memeluk saya.

Sesudah itu Budi menghela napas panjang. “Aku tak tahu apakah aku menyesal atau tidak, … tapi yang tadi sangat nikmat. Terima kasih kak Win”. Diciuminya muka saya. aku tak dapat berkata apa-apa. Air mata aku menetes keluar.

Aku sangat menyesali yang telah terjadi, tapi aku juga menikmatinya sangat mendalam. Saat itu aku juga merasakan penyesalan Budi. aku tahu ia sangat menyayangi Dian istrinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Sejak kejadian itu, kami hanya pernah mengulangi berzina satu kali. Itu kami lakukan kira-kira di minggu ketiga bulan puasa, pada malam hari. Yang kedua itu kami melakukannya juga dengan menggebu-gebu. Sejak itu kami tak pernah melakukannya lagi hingga kini.

Kami masih sering bertemu, dan berpandangan penuh arti. Tapi kami tak pernah sungguh-sungguh untuk mencari kesempatan melakukannya. Budi sangat sibuk dan aku harus mengurusi Ilham yang masih kecil.

Aku masih terus didera nafsu sex setiap hari. aku masih terus bermain dengan internet dan menjelajahi dunia sex internet. aku terus berusaha menekan birahi, tapi aku merasa tak mampu. Mungkin suatu saat aku nanti aku akan melakukannya lagi dengan Budi, dengan segala dosa yang menyertai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*