Cerita Dewasa Jebol Juga Pertahanannya | Sex Terbaru
Situs BandarQ
Agen Bola Bandar Poker Domino QQ Bandar Bola BandarQ RGOBET AFAPOKER

Cerita Dewasa Jebol Juga Pertahanannya

<center>

Ingatkah dulu nama wanita yang bernama Nisa pacarnya temanku Putra yang pernah saya gauli hingga terebut keperawanannya di kamar pacarnya saat dia sedang keluar, satu pekan sudah berlalu setelah saya bercinta kemudian kami berdua berencana untuk pergi ke luar kota, awalnya ia menolak tapi setelah mendengar ancamanku jika Putra akan tahu mengenai kondisi yang sebenarnya, akhirnya gadis ini menyerah juga.

Kami sebenarnya pergi berombongan dengan sahabat-sahabat dari kampusku yang kebetulan mengadakan study tour ke wilayah danau Sarangan di lereng Gunung Lawu. Dengan 3 mini bus akhirnya rombongan diberangkatkan setelah menunda waktu sampai 1 jam karena supirnya sakit dan penggantinya belum datang.

Cerita Mesum Terbaru 2018, Cerita kentu hot, cerita sex baru, kisah mesum hot terbaru, kumpulan cerita ML terhot, pasangan sange, cerita dewasa selingkuhi pacar teman, perselingkuhan pacar, kisah hot selingkuh nikmat

Dalam agenda wisata bersama kali ini (saya sebut wisata karena tak memnuhi kriteria untuk disebut study tour, karena memang tidak ada yang bisa dipelajari) panitia memberikan dua jadwal khusus, pertama out bond di danau Sarangan dan jalan-jalan lintas alam dilereng gunung lawu walaupun tak sampai mendakinya.

Sekitar jam 2 siang, rombongan tiba di sebuah villa yang lokasinya tak jauh dari danau. Villa tersebut dibagi menjadi 4 bangunan kecil dan satu bangunan besar yang dibagian depannya digunakan sebagai ruang pertemuan atau pertunjukan karena luas dan lapang.

Sementara 4 bangunan kecil lainnya berupa rumah kecil dengan 3 kamar tidur, sedangkan kamar mandi berada diluar yang cuma terbisa 6 kamar mandi untuk pria dan wanita tanpa pemisah.

Ditempat itu juga terbisa jajaran warung yang kebanyakan tutup karena mungkin bukan musim liburan sesampai mereka malas untuk membuka warungnya. Dibagian samping dari area villa kami terbisa beberapa villa lain dan beberapa pula rumah penduduk.

Cerita Mesum Terbaru 2018, Cerita kentu hot, cerita sex baru, kisah mesum hot terbaru, kumpulan cerita ML terhot, pasangan sange, cerita dewasa selingkuhi pacar teman, perselingkuhan pacar, kisah hot selingkuh nikmat

Tapi yang membuatku heran bahwa ada beberapa rumah yang berbentuk seperti kost-kostan dengan banyak kamar kecil. Setelah saya bertanya kepada pengurus villa ternyata itu adalah penginapan yang biasa digunakan pasangan muda-mudi (biasanya anak SMU atau SMP yang bolos) untuk bercinta atau istilah kerennya quickie.

Karena sekali lagi kami ini semua mahasiswa maka soal pembagian kamar juga tak sekaku ketika study tour waktu SMU yang disahabati guru sebagai pengawas. Akhirnya saya sukses sekamar dengan Nisa dan satu cewek lagi yang bernama Elisha salwa seorang mahasiswi yang kurang bisa bergaul karena sifatnya yang tertutup.

Mungkin akibat ulah kakaknya yang sering buat ulah di kampus sesampai sempat tertangkap polisi karena membawa sabu-sabu dan putau didalam lingkungan kampus, terang-terangan pula. Nama Elisha sebisa mungkin dihindari oleh sahabat-sahabat sefakultasnya karena mereka telah eneg duluan melihat tingkah laku kedua kakaknya.

Kakaknya yang lain juga masuk penjara karena ketahuan menjadi bandar judi disebuah komplek pertokoan jika malam dan dikeluarkan dari kampus yang sama dengan kampus dimana saya berada.

Petang itu, kami serombongan jalan-jalan di pinggir danau, walau ada beberapa yang menyewa perahu untuk mengelilingi danau, biasanya mereka pasangan kekasih atau yang sedang PDKT (Pendekatan red.).
Nisa dan saya sendiri memilih duduk-duduk sambil makan sate kelinci dipinggir danau tepat didepan hotel bertingka, jika tak salah bernama Hotel Merah (nama yang aneh).

Sepertinya sikap Nisa kepada saya telah mulai melunak, terlihat dari caranya berbicara dan ia tak menolak lagi ketika ketika kami sendirian brdua, saya memintanya untuk bercinta denganku. Setidaknya telah lebih dari 20 kali kami bercinta selama ini, sedangkan dengan Putra pacarnya ia malah belum pernah sama sekali. Betapa beruntungnya diriku ini.

Malam nanti kamu tidur dibawah saja yah jangan diatas jadi ntar pas turun dari tempat tidur bisa pindah ke tempat tidurku.” Kata saya pada Nisa. Memang dikamar kami terbisa dua tempat tidur, satu bertingkat sedangkan satu tidak.

Ia cuma mencibirku lalu memakan satenya lagi,

“Memang kamu mau ngapain lagi? Disana ada Elisha. Jangan macam-macam!” sahutnya kepadaku.

Saya cengar-cengir dan mengatakan jika si Elisha itu tak mungkin peduli dengan keadaan sekitarnya, toh semenjak sekamar dengan kami ia tak pernah berucap sekatapun pada kami.

Malam akhirnya datang juga dan rencansaya mulai berjalan. Dengan mengendap-endap saya membangunkan Nisa yang sedang tertidur lalu menyuruhnya pindah ketempat tidurku. Walaupun dengan malas akhirnya ia mau juga. Begitu ia sampai, tanpa diaba-aba lagi saya segera menciumi bibirnya dan melucuti baju tidurnya dalam kegelapan kamar malam itu. Akhirnya dalam beberapa detik saja Nisa telah bugil didepanku begitupun denganku.

Bibir kami berpagutan lagi setelah Nisa benar-benar bangun dari tidurnya dan tak perlu lama-lama, memek gadis ini segera basah karena cairan cintanya yang keluar tak terbendung lagi.

Remasan dan lumatan yang saya lakukan pada kedua toketnya membuat Nisa menggelinjang tak karuan bahkan sempat saya ingatkan untuk tak keras-keras mendesahnya agar tak membangunkan sahabat-sahabat yang lain.

“Ehmmm…erghh…” Desah Nisa tak karuan sembari berusaha menutup mulutnya agar tak mengeluarkan bunyi desahan lagi. Tapi gagal juga apalagi ketika batang kejantananku mulai merasuki liang senggama gadis ini. Nisa menggelinjang kekiri dan kekanan tak karuan sembari terus mendesah,

“Arhhh..akhh…Adi…terus..” katanya disela desahannya.

Memang akhir-akhir ini Nisa telah mulai berani melakukan gerakan aktif ketika bercinta denganku, mungkin karena ia telah tak lagi peduli dengan kesucian cintanya kepada Putra ataupun komitmen yang mereka bangun.

Selang beberapa menit kemudian Nisa mengerang agak keras dan memelukku erat-erat, ia mencapai orgasmenya setelah liang memeknya dipompa oleh kontolku tanpa henti beberapa menit terakhir ini.

“Akhh….saya klimaks Di…Ekhhh…ahhh..” Erangannya ketika orgasme melanda tubuh gadis ini.
Dengan posisi masih menindih Nisa, saya melanjutkan lagi pompaanku sesampai membuat kasur tempat kami bercinta menjadi basah karena lelehan lahar cinta yang luar dari memek Nisa mengalir keluar dan membasahi kasur juga sprei.

Belum cukup dengan itu saya langsung mempercepat gerakan sodokan kontolku dan beberapa ketika kemudian saya mencabut batang kemaluanku itu dari memek Nisa sampai sempat bergesekan cepat dengan klitorisnya yang membuat Nisa menggelinjang hebat. Lalu keluarlah cairan putih kental menyemprot dari ujung kemaluanku membasahi perut dan dada Nisa.

“Kamu kian hot saja Nis.” Kata saya sambil membelai rambut Nisa yag tiduran disampingku setelah saya mencapai orgasmeku.

“Memangnya kamu bandingin dengan sapa aja?” sahutnya pada saya dan cuma saya jawab asal. Ketika saya akan memalingkan wajahku, tiba-tiba sekilas saya melihat ada gerakan aneh pada bagian atas tempat tidur tingkat dimana Elisha tidur.

“Apakah ia tahu dengan kejadian ini?” Pikirku dalam hati.

Pagi datang menjelang dan hari kedua di Sarangan di gunakan sebagai acara out bond yang disponsori oleh sebuah produk rokok. Peserta out bond tersebut semuanya adalah mahasiswa dan ada 3 universitas yang ikut dalam acara ini sedangkan universitas tempatku belajar mengirimkan peserta paling banyak yaitu sebanyak 30 orang.

Acara diawali dengan jalan-jalan di sepanjang lereng Gunung Lawu sampai ke daerah pendakian lalu dilanjutkan dengan lomba perahu dayung sampai dengan penjelajahan didalam hutan di kawasan wisata itu. Banyak sekali kera yang bermunculan setelah kami datang. Umumnya kera tersebut menunggu turis memberikan mereka makanan seperti biasanya.

Tiba-tiba saya mendengar bunyi berteriak cukup keras, bunyi seorang gadis pikirku dalam hati. Itu adalah bunyi Elisha yang tas kecilnya yang berisi tustel (kamera foto) terambil oleh kera kecil yang nakal dan langsung lari kearah pepohonan.

Tak ada yang merespon teriakan itu, sepertinya mereka ogah menolong mengejar kera tersebut. Entah dorongan apa yang mendorongku untuk mengejarnya, mungkin karena saya telah terbiasa bersikap reaktif jadi kadang pikiran tertinggal dibelakang sementara tubuh telah beraksi duluan.

Setelah sekian lama saya mengejar akhirnya saya sukses mendapatkan tas tersebut yang dijatuhkan oleh monyet sialan itu direrumputan becek. Kotor tapi tak rusak, cuma saja tas mungil itu sedikit tergores. Satu hal yang selalu saya sesali adalah tak pernah memperhatikan sekelilingku jika sedang panik.

Akibatnya sekarang saya tersesat cukup jauh, apalagi tanpa kompas, peta maupun jejak yang tertinggal. Apalagi ini adalah dataran tinggi yang notabene berkabut yang membuat pandanganku menjadi lamur ditambah lagi kenyataan bahwa saya yang agak buta arah ini belum pernah menginjakkan kakiku sebelumnya diwilayah ini. Sempurna, pikirku dalam hati. Mungkin sebaiknya saya tak mengejar monyet gila ini, umpatku dalam hati.

“Akhhh…” Terdengar bunyi seorang gadis tak jauh dari tempat saya berdiri. Sontak saya terkejut dan mencari darimana bunyi itu berasal. Ternyata itu adalah Elisha yang ternyata ikut mengejar monyet sial tersebut. “Di. Ketemu?”

Tanyanya setelah melihatku dan tanpa jawaban saya cuma mengangkat tas kecilnya dan diapun tersenyum tak lupa berterima kasih padaku. Ironisnya, ia juga telah lupa jalan ketika ia lari mengejar tasnya tadi. Sesampai bisa ditebak jika kami berdua akhirnya tersesat bersama.

Sekitar 1 jam kami berputar-putar akhirnya karena kecapekan akibat lari-lari plus kegiatan sebelumnya kami memutuskan untuk istirahat sebentar. Jam telah menunjukkan pukul 4 petang dan ketika itu suasana terasa makin dingin saja apalagi disertai gerimis kecil.

“Aduh. Maaf yah, gara-gara saya kamu jadi nyasar bareng ma aku.” Elisha memulai percakapan.

“Ah, ini dah insting aku, jika ada yang lari yah saya kejar. Kebetulan saja monyetnya lari. Gak usah terlalu dipikirkan. Aku aja nggak mikir kok.

” Kata saya asal dan membuat Elisha tertawa. Ternyata cewek satu ini nggak jelek-jelek amat. Wajahnya putih manis tapi orang sering tak memperhatikan mukanya karena sebagian mukanya ditutup dengan rambut panjangnya sesampai membuat mukanya kurang jelas, dan belum lagi ia tak pernah memakai make up apapun sesampai dalam berbagai keadaan mukanya terlihat kalah menonjol dibandingkan sahabat-sahabatnya yang lain. Ternyata tak ada yang mutlak didunia ini, buktinya Elisha ternyata juga nggak seperti yang dibayangkan orang banyak selama ini.

Gadis ini sering menatapku dalam dan setiap kali pandangan kami beradu, ia langsung cepat-cepat menghindar dan menengok kearah lain. Lama-lama saya juga dibuat risih olehnya dan kuberanikan diri bertanya,

“Ada apa sih? Kok dari tadi memandangiku gitu? Ada yang aneh dimuka saya yah?” tanya saya padanya dan ia cuma menggeelisg pelan. Saya tak puas dengan jawaban geelisgan itu kembali bertanya, “Terus…?”

Elisha kembali menatap mata saya dan berkata,

“Saya tau tadi malam kamu sama Nisa bercinta khan?” katanya dan perkataan tersebut bagaikan petir menyambar kepalaku. Ternyata Elisha sadar jika saya dengan Nisa bercinta ketika ia sedang tidur.

“Saya dah liat semua kok. Sebenernya waktu itu mau keluar ke kamar mandi tadi takut nanti kalian malu dan terganggu jadi saya pura-pura tidur aja.

”Lanjutnya dan bisa dipastikan jika Nisa tahu mengenai hal ini maka ia bakalan ngamuk sekaligus panik. Saya meminta Elisha untuk tak menceritakan hal tersebut kepada siapapun dan diluar dugaan ia juga berjanji untuk tak mengatakannya karena baginya saya adalah pahlawannya hari ini.

Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan dan dalam perjalanan tersebut sempat beberapa kali Elisha nyaris jatuh karena tersandung akar pohon yang tertutup semak. Bahkan sempat pada suatu waktu ketika ia akan jatuh dan saya menangkapnya, tak sengaja saya menyentuh buah dadanya yang tertutup jaket tipis. Saya jelas bisa melihat raut mukanya yang memerah karena malu. Hal ini tentu tak saya sia-siakan lagi.

Saya mendekatkan wajahku kewajahnya dan hal tersebut membuat Elisha kian salah tingkah. Ketika ia akan mundur kedua elisgannya saya dekap erat sesampai tak ada jalan lain baginya sekarang.

“Di…” Elisha tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena pada detik berikutnya mulutnya tersumbat oleh mulutku. Kami berciuman dan matanya tertutup seolah ingin menutupi rasa malu dan risihnya padaku.

Tapi jebol juga pertahanan Elisha, akhirnya ia membalas ciumanku walaupun seperti masih amatir. Dari gayanya membalas ciumanku bisa saya pastikan jika Elisha jarang berciuman, kurang berpengalaman atau bahkan tak pernah berciuman sebelumnya.

Menit berikutnya jaket kami berdua lolos juga dan terjatuh di rerumputan basah. Kaus elisgan panjangnya segera saya sibakkan keatas dan menyembullah toket putihnya yang dibalut bra warna merah. Ternyata buah dadanya sangat besar, ukuran 36C jika saya tak salah. Luar biasa untuk ukuran gadis Indonesia yang masih remaja.

Saya sebenarnya heran mengapa seolah tak ada perlawanan dari Elisha terhadap perlakuanku ini. Tapi saya tak ambil pusing dan segera saya lucuti bra nya. Detik berikutnya ciuman dan kuluman bibirku menghiasi kedua toketnya yang segar menantang itu.

“Akhhh…akhhh…” Desah Elisha menikmati perlakuanku tersebut dan ketika jilatan dan gigitan kecil silih berganti mendera toketnya, Elisha menjulurkan tangannya dan membuka resleting celana panjangku dan memelorotkannya sedikit kebawah bersama dengan celana dalamku.

“Wow! Ternyata Elisha bisa horny juga.” Kata saya dalam hati. Sembari mengocok kontolku ia mendesah-desah tak karuan. Dengan posisi bersandar di bebatuan besar saya setengah menindihnya sementara kedua tanganku bergerilya melucuti pakaiannya yang lain sembari tetap mulutku menghajar kedua buah dadanya yang ranum itu.

“Arghh..akhh…mmmm…akhhh” Elisha seperti kesetanan saja, sekarang ia mengocok kontolku maju mundur dengan cepat sembari tangannya yang satu dimasukkan kedalam mulutnya sendiri seolah sedang bercinta.

Dengan kondisi celana panjang, celana dalam dan bra yang telah copot dan tinggal menggunakan kaus elisgan panjang, Elisha saya sandarkan lebih kebawah pada lempengan batu besar ditempat itu dan segera saya buka paha dalamnya sesampai terlihat selangkangan putih mulus milik dara ini.

“Saya malu… jangan

” Rintihnya ketika kontolku saya bimbing kebibir luar memek miliknya.

Elisha meelisguh tidak karuan ketika kontolku saya gesek-gesekkan di bibir kemaluannya. Akhirnya ia mulai juga menggerakkan memeknya menggesek-gesekkan kontolku ketika saya secara sengaja menghentikan gesekan. Ternyata sama saja dengan gadis-gadis lainnya yang ingin merasakan kenikmatan.

Setelah beberapa menit fore play dengan gesekan kontol di bibir memek plus dengan remasan dan pilinan jemariku di puting toket miliknya, memek Elisha akhirnya mulai basah kuyup dan bahkan sempat ia mengalami orgasmenya dengan diiringi dengan kontraksi ototnya mengejang dan kakinya langsung mengapit paha saya sementara kepalanya mendongak dengan mata terpejam. Persis dengan Ranti ketika mengalami orgasmenya denganku.

Melihat cairan cinta telah mulai mengalir keluar dari bibir memek gadis ini, saya mengambil inisiatif untuk melesakkan batang kejantananku kedalam memek miliknya. Elisha kontan membuka matanya lagi dan mengerang ketika liang kemaluannya serasa diterobos oleh benda asing yang berukuran cukup besar.

“Akhh…Di..” rintihnya ketika batang kemaluanku sukses menerobos liang kemaluannya. Bulu-bulu kemaluannya yang lembut seolah menjadi saksi bagaimana proses penerobosan itu terjadi. Dan dalam satu hentakan keras akhirnya kontolku terbenam seluruhnya.

Gadis ini telah tak perawan lagi, pikirku dalam hati, tapi saya telah tak peduli lagi. Lagipula saya bukan pacarnya maupun suaminya.

Elisha mengambil nafas pelan-pelan ketika menyadari didalam memekna telah bercokol kontol berukuran cukup besar. Belum sempat ia berkata apapun, saya telah memberikan sodokan-sodokan ringan liang senggama gadis ini diselingi dengan sesekali sodokan cepat dan keras yang membuat ujung kontolku bisa menyentuh dinding rahim miliknya.

“Akhhh…akhhh….ohhh…Di…jangan keras…keras…kontolmu khan gede…” Ucapnya ketika saya percepat pompaanku.

Saya cuma tersenyum saja mendengar racauan yang keluar dari bibir mungil Elisha tapi tak saya hiraukan dan segera saya percepat lagi goyanganku dengan berbagai variasi. Elisha meracau tak karuan dan desahannya kian keras saja.

Seolah tak peduli lagi jika ada yang mendengar. Sayup-sayup bunyi burung hutan dan serangga hutam mulai terdengar mengiringi desahan kenikmatan yang dialami oleh Elisha. ia tak peduli lagi dengan sekitarnya, yang ia pedulikan adalah bagaimana memperoleh kepuasan dari tiap pompaanku yang mengobrak-abrik pertahanan memek miliknya.

Saya bisa melihat jelas klitorisnya yang menonjol seolah ikut keluar masuk ketika batang kejantananku menggenjot memeknya tanpa ampun. Bibir memeknya terbelah diiringi dengan bunyi kecipak cairan bening yang keluar dari rongga kewanitaan gadis ini.

“Memek kamu seret juga Elis. Nikmat.” Ucapku ketika Elisha telah mulai kehilangan tenaganya. Kedua tangannya tak lagi kaku mencengkeram bahuku dan kedua kakinya pun telah lunglai. “Aku keluarin didalam yah?” pinta saya tapi ia diam saja.

Tanpa peduli resiko apapun lagi saya mempercepat goyangan torpedoku itu sesampai dalam beberapa sodokan terakhir, saya bisa merasakan adanya cairan hangat memancar keluar dari ujung kemaluanku. Begitu kontolku tercabut, terlihat lelehan cairan mani berwarna putih mengalir menetes dari dalam rongga kemaluan Elisha.

“Makasih yah Elis. Kamu benar-benar hebat dalam bercinta.” Kata saya padanya lalu saya cium keningnya yang bermandikan keringat. Elisha tak menjawab dan terpejam, sepertinya ia tadi sempat mengalami orgasme lagi karena tubuhnya seperti telah letih sekali dibanding ketika pertama orgasme.

Beruntung juga kami karena cuma beberapa menit berjalan telah bisa menemukan jalan setapak. Walaupun harus berputar agak jauh tapi kami sukses kembali ke Villa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*