Cerita Sex Kenikmatan Yang Meledak | Sex Terbaru
Situs BandarQ
Agen Bola Bandar Poker Domino QQ Bandar Bola BandarQ RGOBET AFAPOKER

Cerita Sex Kenikmatan Yang Meledak

<center>

Saya telah di persunting oleh suamiku, umurku yang terbilang masih muda 24 tahun saya termasuk orang memiliki wajah cantik, dengan tinggi 168 cm berat badan 51 kg dan ukuran buah dada yang terbilang montok, di kantor banyak sering yang menggodaku dengna nada nada yang mengajak untuk berkencan padahal di tanganku sudah ada cincin mas kawin, tapi setiap cust ataupun klien tempat saya bekerja selalu mencoba membujuk diriku.

cerita sex selingkuh nikmat, cerita mesum perselingkuhan hot, cerita selingkuh rumah tangga, cerita istri selingkuh, kisah dewasa perselingkuhan bergambar, kumpulan kisah selingkuh panas, cerita hot selingkuh terbaru, cerita ML selingkuh rumah tangga

cerita sex selingkuh nikmat, cerita mesum perselingkuhan hot, cerita selingkuh rumah tangga, cerita istri selingkuh, kisah dewasa perselingkuhan bergambar, kumpulan kisah selingkuh panas, cerita hot selingkuh terbaru, cerita ML selingkuh rumah tangga

Dan dalam cerita sex di bawah ini yang terjadi hamper 2 tahun saya ceritakan semua, pertama gelombang ajakan dan godaan menerpaku, namun masih mampu kutepis sebab pada dasarnya saya memang mencintai suamiku perkenalkan nama saya Vita.

Hampir setahun menikah tanpa dikaruniai anak, pertahananku jebol ketika muncul rekan kerja dari perusahaan mitra yang bernama Arga. Walau beda perusahaan, tugas Arga menuntutnya untuk sering datang ke kantorku dan kebetulan hubungan kerjanya sangat terkait erat denganku.

Akibatnya kami sering menghabiskan waktu bersama. Dimulai dari pekerjaan di kantorku, lalu meeting di cafĂ© beramai-ramai, yang akhirnya sering kami lanjutkan berduaan sesudah mitra kerja yang lain pulang, atau berjalan-jalan bersama di mal untuk mencari kebutuhan kantor. Lama kelamaan kudapatkan banyak kecocokan di antara Arga dan saya yang tidak kudapatkan dalam diri suamiku. Apalagi bidang kerja kami selaras sehingga komunikasi kami terasa lebih “nyambung”.

Suatu siang sesudah mencari beberapa buku acuan untuk keperluan pekerjaan, kami melewati lokasi arcade di mal besar itu dan saya melihat permainan dance machine yang sangat kusukai, namun biasanya kumainkan sendiri sebab suamiku tidak menyukainya. Spontan kuajak Arga untuk menemaniku bermain dan ternyata dia menyambutnya dengan bersemangat sebab dia juga menyukainya.

Bertambah lagi satu kecocokan di antara kami. Kami pun bermain beberapa game hingga di tengah game terakhir, mungkin sebab terlalu bersemangat mendapatkan teman bermain, saya terpeleset hingga kakiku terkilir.

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan kecuali pergi ke dokter. Sepulang dari dokter, masih dengan jalan tertatih-tatih, Arga mengusulkan untuk mengantarku pulang saja, dan tidak kembali ke kantor agar saya bisa beristirahat. saya sependapat saja walaupun ketika itu kakiku sudah tidak terlalu sakit lagi, namun masih terasa sangat mengganjal.

Setiba di rumah, kuajak Arga untuk mampir dan dia menerimanya dengan senang hati. Arga memapahku hingga ke kamar, lalu membantuku duduk di ranjang. Dengan manja kuminta dia mengambilkan saya minuman di dapur, sebab memang sebelum mendapatkan anak, saya dan suamiku telah sepakat untuk tidak memelihara pembantu, jadi ketika itu rumahku kosong.

Arga mengambilkan minuman dan kembali ke kamar mendapatkan saya telah melepas blazer dan sedang memijat betisku. dia agak tersentidak melihatku, sebab kecuali tinggal memakai blous “you can see” longgar yang membuat ketiak dan buah dadaku yang putih mulus itu mengintip nakal, posisi kakiku juga menarik rokku hingga pahaku yang juga putih mulus itu terbuka untuk menggoda matanya.

Tampak sekali dia menahan diri dan mengalihkan pandangan ketika memberikan minuman kepadaku. Memang “gentleman” pria ini.

“Ga, pijetin kakiku dong, biar darahnya lebih lancar. Ini balutannya kenceng banget sih, sampe sakit. Pijetanku nggak ada tenaganya nih!” ujarku tulus. Sungguh mati, pada ketika itu, sikap tubuhku dan kata-kataku sama sekali tidak bertujuan menggodanya. Memang itulah yang kuinginkan, hanya pijatan untuk melancarkan darahku yang terasa terbebat, tidak lebih.

Arga duduk di pinggir ranjang dan mulai memijat betisku dari bawah lutut hingga hampir mencapai pergelangan kakiku yang dibalut perban.

“Kayaknya emang harus ketat, Vit. Dokter bilang, supaya bengkaknya lebih cepet kempes,” tukas Arga sambil terus memijatku.

“Mmm, iya kali,” jawabku sekenanya sementara mataku terpejam merasakan pijatannya yang memang membuat kakiku lebih nyaman. Tidak lama Arga memijat hingga kurasakan kenyamanan dalam tubuhku berangsur beralih menjadi perasaan berdesir yang aneh setiap kali tangan kekarnya menyentuh kakiku. Kubuka mata dan kutatap wajah Arga yang tampak serius memijat kakiku.

Sama sekali tidak tampan, pun cenderung keras, wajah Arga sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang demikian lembut memperlakukanku selama ini.

Tenaga dan penampilan keras serta sikap lembut, kombinasi yang tidak kudapatkan dari suamiku, ditambah berbagai macam kecocokan di antara kami. Mungkin inilah yang mendorongku untuk menggeser posisiku mendekatinya, lalu mencium bibirnya.

Arga kaget, namun tidak berusaha menghindar. Dibiarkannya saya mencium bibirnya beberapa ketika sebelum akhirnya dia merespon dengan hisapan lembut pada bibir bawahku yang basah. Kami saling menghisap bibir beberapa ketika hingga akhirnya Arga yang lebih dulu melepas ciuman hangat kami.

“Vit..” katanya ragu. Kami saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberi jawaban dan keputusan yang sama dalam hati kami, lalu hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, saya dan Arga saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah.

Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Arga mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria yang tampaknya sekasar dia bisa menyentuh selembut ini, saya tidak peduli dan merasakan saja kelembutan yang memancing gairah ini.

Kembali Arga yang melepas bibirnya dari bibirku. Tapi kali ini, dengan lembut namun tegas, dia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tidak kuasa melawan dan saya pun terbaring pasrah merasakan belaiannya, sementara dia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku.

Arga mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan bernapsu pada lidahnya. Mungkin ketika itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, meremas-remas memekku yang masih terbalut celana dalam itu dengan lembut namun perkasa.

“Mmhhh… Argaa..” desahku di sela-sela ciuman panas kami. saya agak tidak rela ketika tangan kekarnya meninggalkan selangkanganku, namun dia mulai menarik blousku hingga terlepas dari jepitan rokku, lalu dia loloskan dari kepalaku.

Buah dada montok yang mengintip menggoda dari BH-ku tidak disentuhnya, membuatku semakin penasaran. dia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku.

Permainannya yang lembut dan tidak tergesa-gesa ini membuatku sangat penasaran dan terpancing menjadi semakin bergairah, hingga akhirnya dia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali menyelipkan jarinya ke balik BH menggesek-gesek putingku yang ketika itu sudah tegak mengacung.

Saya sendiri tak tinggal diam dan mulai melepas kancing bajunya, dan sesudah bajunya kulepaskan untuk menyingkap dada bidang dan kekar di depan mataku, dia pun memutuskan untuk mengalihkan godaan lidahnya ke buah dadaku.

Dihisap dan dijilatnya buah dadaku sementara tangannya merogoh ke balik punggungku untuk melepas kait BH-ku. dia melempar BH-ku ke lantai sambil tidak buang waktu lagi mulai menjilati putingku yang memang sudah menginginkan ini dari tadi.

“Ooohhh…” desahku langsung terlontar tidak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek putingku yang terasa sangat peka. Terus Arga menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat merasakan gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini, sementara tangannya mulai melepas celananya, sehingga kini dia benar-benar telanjang bulat.

Arga melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. Kontolnya yang besar dan berotot mengacung dengan bangga. dia melepas rokku dan membungkukkan badannya menjilati pahaku. Kembali lidahnya yang basah dan kasar menghantarkan setruman birahi hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku.

Apalagi bila lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran memekku, semili lagi untuk menyentuh bibir memekku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi penasaranku yang menginginkan lebih.

Akhirnya, dengan menyibakkan celana dalamku, Arga mengalihkan jilatannya ke bibir memekku yang telah begitu basah penuh lendir birahi.

“Gggaaahhh.. Argaaaa.. ohhh..” rintihanku langsung menyertai ledakan kenikmatan yang kurasakan ketika lidah Arga melalap memekku dari bawah hingga ke atas, menyentuh klitorisku.

“Ohhh.. ohhh.. ngh.. ngh.. ngh.. ohhh..” saya memajumundurkan pantatku seirama dengan jilatannya pada memekku, sementara tanganku mengacak-acak dan menjambak-jambak rambutnya. Lendir gairah mengalir dari memekku, diterima oleh lidah dan mulut Arga yang tidak henti menjilat dan menghisap memekku.

Kenikmatan merebak perlahan, berpangkal dari memekku ke seluruh tubuhku, membuat pandanganku gelap dan kepalaku terasa melayang. saya tahu saya hampir mencapai klimaks, padahal masih menginginkan lebih.

Mungkin mengetahui itu juga, Arga melepas lidahnya dari memekku, dan melepas celana dalamku yang sudah basah kuyup tidak karuan. Kini kami sama-sama telanjang bulat. Tubuh kekar Arga berlutut di depanku. Memekku panas, basah dan berdenyut-denyut.

Arga membuka kakiku hingga mengangkang semakin lebar, lalu menurunkan pantatnya dan menuntun kontolnya ke bibir memekku. “Hngk!” kerongkonganku tercekat ketika kepala kontol Arga menembus memekku.

Walau telah basah berlendir, tidak urung kontol Arga yang demikian kekar berotot begitu seret memasuki liang memekku yang belum pernah dilewati bayi ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan hebat bercampur sedikit rasa sakit.

Tanpa terburu-buru, Arga kembali menjilati dan menghisap putingku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada putingku, tidak hingga menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah kontolnya bergerak perlahan dan lembut dalam memekku.

Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di memekku, melicinkan jalan masuk kontol berotot ini ke dalam liang kenikmatanku. Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu puting ke puting yang lain, membuat kepalaku terasa semakin melayang didera kenikmatan gairah.

Akhirnya seluruh kontol Arga tertelan oleh memekku, memberiku kenikmatan hebat, seakan memekku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Arga mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, sementara saya pun mulai membalas dengan gerakan pantat yang maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, sementara napas kami semakin tersengal-sengal diselingi desah penuh kenikmatan.

“Hhhh.. hhh.. hhh.. Vit.. ohhh ..nikmmattthh sahyangghh..”

“Ohhh.. Arggaaa.. hhh.. hhhh.. hhh.. hhhh.. mmm..”

Terus kami saling memberi kenikmatan, sementara lidah Arga kembali menari di putingku yang memang gatal memohon jilatan lidah kasarnya. saya sendiri hanya bisa merasakan semua itu sambil meremas-remas rambutnya.

Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat yang sempat terhenti kembali merebak perlahan berpusat dari memek dan putingku, ke seluruh tubuhku hingga ujung jariku. Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu perlahan sehingga terasa seakan berjam-jam, walau sebenarnya hanya sekitar 20 menit.

Kontol Arga semakin cepat dan kasar menggenjot memekku dan menggesek-gesek dinding memekku yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. saya begitu menikmatinya hingga akhirnya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yang intensitasnya perlahan terus bertambah seakan tanpa henti hingga akhirnya seluruh tubuhku terpaksa bergelinjang tanpa bisa kukendalikan ketika kenikmatan gairah ini meledak dalam seluruh tubuhku.

“Ngghhh.. nghhh.. nghhhhhh.. Harrrizzzhhhh.. Akkkk!!” pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku dan ledakan kenikmatan klimaks dalam tubuhku, membuat Arga semakin mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan dan kembali lembut.

Ledakan kenikmatan orgasmeku yang terasa seperti berpuluh-puluh menit itu menyemburkan lendir orgasme dalam memekku, sementara Arga dengan menggoda terus menggerakkan kontolnya secara sangat perlahan, di mana setiap mili kontol Arga menggesek dinding memekku, suatu kenikmatan orgasme meledak dalam tubuhku.

Beberapa detik kenikmatan yang terasa seperti puluhan menit itu akhirnya berakhir dengan tubuhku yang terkulai lemas dengan kontol Arga masih di dalam memekku yang berdenyut-denyut di luar kendaliku.

Tanpa tergesa-gesa, Arga mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan sangat disayangi. dia sama sekali tidak menggerakkan kontolnya yang masih besar dan keras di dalam memekku. dia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.

Sesudah saya kembali “sadar” dari ledakan kenikmatan klimaks yang memabukkan tadi, saya pun mulai membalas ciuman Arga, memancing Arga untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar.

Gairah Arga yang sempat tertahan tampak semakin terpancing dan dia mulai kembali menggerak-gerakkan pantatnya perlahan-lahan, menggesekkan kontolnya pada dinding memekku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan berani melayani gairahnya yang memang tampak sudah mendekati puncak.

Genjotan kontolnya pada memekku semakin cepat, kasar dan liar. Walau sudah tidak merasakan rangsangan lagi, hanya merasakan kebersamaan, saya tidak merasa disakiti oleh genjotan kontol Arga yang semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, hingga akhirnya ledakan lendir kental panas muncrat bertubi-tubi di dalam memekku.

“Hngk.. ngggghhh.. Vit..” Arga melenguh menyertai ejakulasi puncaknya yang kubuat semakin nikmat dengan menekan pantatku maju, menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya di dalam memekku, sambil kupeluk tubuhnya erat.

Sesudah mengejang beberapa detik, tubuh Arga melemas dan ambruk menindih tubuhku. Berat memang, namun Arga menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Dua tubuh telanjang bermandikan keringat terbaring berdampingan di ranjang, tersungging senyum penuh kepuasan pada bibir kami berdua. Arga memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas.

Sekembali Arga ke kantor, saya termenung sendirian di ranjang. Suatu kenyataan yang tadi sama sekali tidak terpikir olehku mulai merebak dalam kesadaranku. saya telah merasakan perbuatan nista dan telah mengkhianati suamiku. saya mulai merasa berdosa, sementara di lain pihak, saya sangat menikmatinya dan sangat ingin melakukannya lagi.

Hati dan akal sehat terpecah dan menyeretku ke dua arah yang berlawanan. Pergumulan batin terjadi membuatku limbung dalam hidup. Akhirnya kuputuskan untuk menjauhi Arga dan kuminta dia untuk menjauhiku. Kulimpahkan tugasku pada seorang bawahanku, sehingga saya tidak perlu terlalu sering bertemu dengan Arga lagi.

Sesudah beberapa minggu dalam kondisi seperti ini, Arga berhenti bertugas di kantorku. Entah itu keinginannya sendiri atau memang dia dialihtugaskan, saya tidak tahu. Namun hingga kini, pergumulan batin dalam diriku masih terus berlangsung.

Saya masih merindukan dan menginginkan sentuhan tangan kekar Arga, sementara di lain pihak saya tetap mencintai dan ingin setia pada suamiku yang begitu baik hati, namun tidak bisa memberikan yang telah diberikan Arga padaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*