Cerita Sex diambil Perawan dan Perjakanya | Sex Terbaru
Situs BandarQ
Agen Bola Bandar Poker Domino QQ Bandar Bola BandarQ RGOBET AFAPOKER

Cerita Sex diambil Perawan dan Perjakanya

<center>

Cerita Mesum Perawan Hot, Cerita Sex Dewasa Perawan – Hallo sekarang saya mendapat giliran jaga malam, saya berpesan kepada temanku, “kamu jangan ngirim pasien yang aneh aneh, soalnya saya ingin bobo nih,

Udah makan belum?” suara merdu di seberang sana menyahut.

Cie… illeee, perhatian nich”, saya menyambung dan, “Bodo ach”, lalu terdengar tuutt… tuuuttt… tuuut, rupanya telepon di sana sudah ditutup.

Cerita Dewasa diambil Perawan dan Perjakanya

Cerita Sex Perawan 2018, cerita dewasa ngentu perawan, cerita ngentot tempek perawan, cerita seks perawan ngesex, cerita mesum perawan dientot, cerita panas kentu perawan, hot perawan kentu, perawan hot, cerita perawan

Malam ini saya dapat giliran jaga di bangsal bedah meskipun di UGD alias Unit Gawat Darurat ada dr. Sandra yang jaga. Nah, UGD jika sudah malam begini jadi pintu gerbang, jadi seluruh pasien akan masuk via UGD, nanti baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga akan dikirim ke bagian mana para pasien yang perlu dirawat itu.

Syukur-syukur sih bisa ditangani langsung di UGD, jadi tak perlu merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri harus saya akui ia cukup terampil & pandai juga, masih sangat muda sekitar 28 tahun, cantik menurutku, tak terlalu tinggi sekitar 165 cm dengan bodi sedang ideal, kulitnya putih dengan rambut sebahu.

Cerita Sex Perawan 2018, cerita dewasa ngentu perawan, cerita ngentot tempek perawan, cerita seks perawan ngesex, cerita mesum perawan dientot, cerita panas kentu perawan, hot perawan kentu, perawan hot, cerita perawan

Sifatnya cukup pendiam, jika bicara tenang seakan memberikan kesan sabar tapi yang sering rekan sejawat jumpai yaitu ketus & judes apalagi jika lagi moodnya jelek sekali. Celakanya yang sering ditunjukkan, ya seperti itu.

Gara-gara itu barangkali, sampai kini ia masih single. Cuma dengar-dengar saja belakangan ini ia lagi punya hubungan khusus dengan dr. Anton tapi saya juga tak pasti.

Kira-kira jam 2 pagi, kamar jaga saya diketuk dengan cukup keras juga.

Siapa?” tanyaku masih agak malas untuk bangun, sepet benar nih mata.

Dok, ditunggu di UGD ada pasien konsul”, suara dibalik pintu itu menyahut, oh suster Lena rupanya.
Ya”, sahutku sejurus kemudian.

Sampe di UGD kulihat ada beberapa pria di dalam ruang UGD & sayup-sayup terdengar suara rintihan halus dari ranjang periksa di ujung sana, sempat kulihat sepintas seorang pria tergeletak di sana tapi belum sempat kulihat lebih jelas ketika dr. Sandra menyongsongku, “Fran, pasien ini jari telunjuk kanannya masuk ke mesin, parah, baru setengah jam sih, tensi oke, menurutku sih amputasi (dipotong, gitu maksudnya), gimana menurut kamu?” demikian resume singkat yang diberikan olehnya.

Cerita Sex Perawan 2018, cerita dewasa ngentu perawan, cerita ngentot tempek perawan, cerita seks perawan ngesex, cerita mesum perawan dientot, cerita panas kentu perawan, hot perawan kentu, perawan hot, cerita perawan

San, kamu makin cantik aja”, pujiku sebelum meraih status pasien yang diberikannya padaku & ketika saya berjalan menuju ke tempat pasien itu, sebuah cubitan keras mampir di pinggangku, sambil dr. Sandra mengiringi langkahku sehingga tak terlalu lihat apa yang ia lakukan. Sakit juga nih.

Saat kulihat, pasien itu memang parah sekali, boleh dibilang hampir putus & yang tertinggal cuma sedikit daging & kulit saja.

Dok, tolong dok… jangan dipotong”, pintanya kepadaku memelas.

Akhirnya saya panggil itu si Om gendut, bosnya barangkali & seorang rekan kerjanya untuk mendekat & saya berikan pengertian ke mereka semua.

Siapa nama Bapak?” begitu saya memulai percakapan sambil melirik ke status untuk memastikan bahwa status yang kupegang memang punya pasien ini.

Praptono”, sahutnya lemah.

Begini Pak Prap, saya mengerti keadaan Bapak & saya akan berusaha untuk mempertahankan jari Bapak, namun hal ini tak mungkin dilakukan karena yang tersisa hanya sedikit daging & kulit saja sehingga tak ada lagi pembuluh darah yang mengalir sampai ke ujung jari.

Cerita Sex Perawan 2018, cerita dewasa ngentu perawan, cerita ngentot tempek perawan, cerita seks perawan ngesex, cerita mesum perawan dientot, cerita panas kentu perawan, hot perawan kentu, perawan hot, cerita perawan

Bila saya jahit & sambungkan, itu hanya untuk sementara mungkin sekitar 2 – 4 hari setelah itu jari ini akan membusuk & mau tak mau pada akhirnya harus dibuang juga, jadi dikerjakan 2 kali. Jika kini kita lakukan hanya butuh 1 kali pengerjaan dengan hasil akhir yang lebih baik, saya akan berusaha untuk seminimal mungkin membuang jaringannya & pada penyembuhannya nanti diharapkan lebih cepat karena lukanya rapih & tak compang-camping seperti ini”, begitu penjelasan saya pada mereka.

Kira – kira seperempat jam kubutuhkan waktu untuk meyakinkan mereka akan tindakan yang akan kita lakukan. Setelah semuanya oke, saya minta dr. Sandra untuk menyiapkan dokumennya termasuk surat persetujuan tindakan medik & pengurusan untuk rawat inapnya, sementara saya siapkan peralatannya dibantu oleh suster-suster dinas di UGD.

San, kamu mau jadi operatornya?” tanyaku setelah semuanya siap.

Ehm… saya jadi asisten kamu aja deh”, jawabnya setelah terdiam sejenak.

Entah kenapa ruangan UGD ini walaupun ber-AC tetap saja saya merasa panas sehingga butir-butir keringat yang sebesar jagung bercucuran keluar terutama dari dahi & hidung yang mengalir hingga ke leher saat saya kerja itu.

Untung Sandra mengamati hal ini & sebagai asisten ia cepat tanggap & berulang kali ia menyeka keringatku. Huh… saya suka sekali waktu ia menyeka keringatku, soalnya wajahku & wajahnya begitu dekat sehingga saya juga bisa mencium wangi tubuhnya yang begitu menggoda, lebih-lebih rambutnya yang sebahu ia gelung ke atas sehingga tampak lehernya yang putih berjenjang & tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Benar-benar menggoda iman & harapan.

Setengah jam kemudian selesai sudah tugasku, tinggal jahit untuk menutup luka yang kuserahkan pada dr. Sandra. Setelah itu kulepaskan sarung tangan sedikit terburu-buru, terus cuci tangan di wastafel yang ada & segera masuk ke kamar jaga UGD untuk pipis. Ini yang membuat saya tak tahan dari tadi ingin pipis.

Daripada saya mesti lari ke bangsal bedah yang cukup jauh atau keluar UGD di ujung lorong sana juga ada toilet, lebih baik saya pilih di kamar dokter jaga UGD ini, lagi pula rasanya lebih bersih.

Saat kubuka pintu toilet (hendak keluar toilet), “Ooopsss…” terdengar jeritan kecil halus & kulihat dr. Sandra masih sibuk berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaos yang dipegangnya.

Ngapain lu di sini?” tanyanya ketus.

Aku habis pipis nih, kamu juga kok nggak periksa-periksa dulu terus ngapain kamu buka baju?” tanyaku tak mau disalahkan begitu saja.

Ya, udah keluar sana”, suaranya sudah lebih lembut seraya bergerak ke balik pintu biar tak kelihatan dari luar saat kubuka pintu nanti.

Ketika saya sampai di pintu, kulihat dr. Sandra tertunduk dan… ya ampun…. pundaknya yang putih halus terlihat sampai dengan ke pangkal lengannya, “San, pundak kamu bagus”, bisikku dekat telinganya & semburat merah muda segera menjalar di wajahnya & ia masih tertunduk yang menimbulkan keberanianku untuk mengecup pundaknya perlahan.

Ia tetap terdiam & segera kulanjutkan dengan menjilat sepanjang pundaknya hingga ke pangkal leher dekat tengkuknya. Kupegang lengannya, sempat tersentuh kaos yang dipegangnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya & terasa agak lembab. Rupanya itu alasannya ia membuka kaosnya untuk menggantinya dengan yang baru. Berkeringat juga rupanya tadi.

Perlahan kubalikkan tubuhnya & segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus & kurengkuh tubuhnya & kembali lidahku bermain lincah di pundak & punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus & kusapu dengan lidahku yang basah. “

Aaaccch… ach…” desahnya yang pertama & disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas & tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku & dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah & dari belakang pundaknya itu.

Kulihat dua buah gundukan bukit yang tak terlalu besar tapi sangat menantang & pada bukit yang sebelah kanan tampak tonjolannya yang masih berwarna merah dadu meskipun yang sebelah kiri tak terlihat.

Kusedot kembali urat lehernya & ia menjerit tertahan, “Aach… ach… ssshhh”, tubuhnya pun kurasakan semakin lemas oleh karena semakin berat saya menahannya.

Dengan tetap dalam dekapan, kubimbing dr. Sandra menuju ke ranjang yang ada & perlahan kurebahkan dia, matanya masih terpejam dengan guratan nikmat terhias di senyum tipisnya, & secara refleks tangannya bergerak menutupi buah dadanya.

Kubaringkan tubuhku sendiri di sampingnya dengan tangan kiri menyangga beban tubuh, meskipun tangan kanan mengusap lembut alis matanya terus turun ke pangkal hidung, mengitari bibir terus turun ke bawah dagu & berakhir di ujung liang telinganya.

Senyum tipis terus menghias wajahnya & berakhir dengan desahan halus disertai terbukanya bibir ranum itu. “Ssshhh… acchh…” Kusentuhkan bibirku sendiri ke bibirnya & segera kami saling berpagutan penuh nafsu.

Kuteroboskan lidahku memasuki mulut & mencari lidahnya untuk saling bergesekan kemudian kugesekan lidahku ke langit-langit mulutnya, sementara tangan kananku kembali menelusuri lekuk wajahnya, leher & terus turun menyusuri lembah bukit, kudorong tangan kanannya ke bawah & kukitari putingnya yang menonjol itu.

Lima sampai tujuh kali putaran & putingnya semakin mengeras. Kulepaskan ciumanku & kualihkan ke dagunya. Sandra memberikan leher bagian depannya & kusapu lehernya dengan lidahku terus turun & menyusuri tulang dadanya perlahan kutarik tangannya yang kiri yang masih menutupi bukitnya.

Tampak kini dengan jelas kedua puting susunya masih berwarna merah dadu tapi yang kiri masih tenggelam dalam gundukan bukit. Feeling-ku, belum pernah ada yang menyentuh itu sebelumnya.

Kujilat tepat di area puting kirinya yang masih terpendam malu itu pada jilatan yang kelima atau keenam, saya lupa. Puting itu mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu & segera kutangkap dengan lidah & kutekankan di gigi bagian atas, “Ach… ach… ach…” suara desisnya semakin menjadi & kali ini tangannya juga mulai aktif memberikan perlawanan dengan mengusap rambut & punggungku.

Sambil terus memainkan kedua buah toketnya tanganku mulai menjelajah area yang baru turun ke bawah melalui jalur tengah terus & terus menembus batas atas celana panjangnya sedikit tekanan & kembali meluncur ke bawah menerobos karet celana dalamnya perlahan turun sedikit & segera tersentuh bulu-bulu yang sedikit lebih kasar.

Eeehhhm… ech…” tak diteruskan tapi bergerak kembali naik menyusuri lipatan celana panjangnya & sampai pada area pinggulnya & segera kutekan dengan agak keras & mantap, “Ach…” pekiknya kecil pendek seraya bergerak sedikit liar & mengangkat pantat & pinggulnya.

Segera kutekan kembali lagi pinggul ini tapi kali ini kulakukan keduanya kanan & kiri dan, “Fran… ugh…” teriaknya tertahan. saya kaget juga, itu kan artinya Sandra sadar siapa yang mencumbunya & itu juga berarti ia memang memberikan kesempatan itu untukku. Matanya masih terpejam hanya-hanya kadang terbuka.

Kutarik restleting celananya & kutarik celana itu turun. Mudah, oleh karena Sandra memang menginginkannya juga, sehingga gerakan yang dilakukannya sangat membantu. Tungkainya sangat proporsional, kencang, putih mulus, tentu ia merawatnya dengan baik juga oleh karena ia juga kan berasal dari keluarga kaya, jika tak salah bapaknya salah satu pejabat tinggi di bea cukai.

Kuraba paha bagian dalamnya turun ke bawah betis, terus turun hingga punggung kaki & secara tak terduga Sandra meronta & terduduk, dengan nafas memburu & tersengal-sengal, “Fran…” desisnya tertelan oleh nafasnya yang masih memburu.

Kemudian ia mulai membuka kancing bajuku sedikit tergesa & kubantunya lalu ia mulai mengecup dadaku yang bidang seraya tangannya bergerak aktif menarik retsleting celanaku & menariknya lepas. Langsung saja saya berdiri & melepaskan seluruh bajuku & kuterjang Sandra sehingga ia rebah kembali & kujilat mulai dari perutnya.

Sementara tangannya ikut mengimbangi dengan mengusap rambutku, ketika saya sampai di selangkangannya kulihat ia memakai celana berwarna dadu & terlihat belahan tengahnya yang sedikit cekung sementara pinggirnya menonjol keluar mirip pematang sawah & ada sedikit noda basah di tengahnya tak terlalu luas, ada sedikit bulu hitam yang mengintip keluar dari balik celananya.

Kurapatkan tungkainya lalu kutarik celana dalamnya & kembali kurentangkan kakinya seraya saya juga melepas celanaku. Kini kami sama berbugil, kemaluanku tegang sekali & cukup besar untuk ukuranku. Sementara Sandra sudah mengangkang lebar tapi labia mayoranya masih tertutup rapat.

Kucoba membukanya dengan jari-jari tangan kiriku & tampak sebuah lubang kecil sebesar kancing di tengahnya diliputi oleh semacam daging yang berwarna pucat demikian juga dindingnya tampak berwarna pucat walau lebih merah dibandingkan dengan bagian tengahnya. Gila, rupanya masih perawan.

Tak lama kulihat segera keluar cairan bening yang mengalir dari lubang itu oleh karena sudah tak ada lagi hambatan mekanik yang menghalanginya untuk keluar & banjir disertai baunya yang khas makin terasa tajam. Baru saat itu kujulurkan lidahku untuk mengusapnya perlahan dengan sedikit tekanan.

Eehhh… ach… ach… ehhh”, desahnya berkepanjangan. Sementara lidahku mencoba untuk membersihkannya namun banjir itu datang tak tertahankan. saya kembali naik & menindih tubuh Sandra, sementara kemaluanku menempel di selangkangannya & saya sudah tak tahan lagi kemudian saya mulai meremas toket kanannya yang kenyal itu dengan kekuatan lemah yang makin lama makin kuat.

Fran… ambilah…” bisiknya tertahan seraya menggoyangkan kepalanya ke kanan & ke kiri sementara kakinya diangkat tinggi-tinggi. Dengan tangan kanan kuarahkan torpedoku untuk menembak dengan tepat.

Satu kali gagal rasanya melejit ke atas oleh karena licinnya cairan yang membanjir itu, dua kali masih gagal juga namun yang ketiga rasanya saya berhasil ketika tangan Sandra tiba-tiba memegang erat kedua pergelangan tanganku dengan erat & desisnya seperti menahan sakit dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri.

Sementara batang kejantananku rasanya mulai memasuki liang yang sempit & membuka sesuatu lembaran, sesaat kemudian seluruh batang kemaluanku sudah tertanam dalam liang surganya & kaki Sandra pun sudah melingkari pinggangku dengan erat & menahanku untuk bergerak. “Tunggu”, pintanya ketika saya ingin bergerak.

Beberapa saat kemudian saya mulai bergerak mengocoknya perlahan & kaki Sandra pun sudah turun, mulanya biasa saja & respon yang diberikan juga masih minimal, sesaat kemudian nafasnya kembali mulai memburu & butir-butir keringat mulai tampak di dadanya, rambutnya sudah kusut basah makin mempesona & gerakan mengocokku mulai kutingkatkan frekuensinya & Sandra pun mulai dapat mengimbanginya.

Makin lama gerakan kami semakin seirama. Tangannya yang pada mulanya diletakkan di dadaku kini bergerak naik & akhirnya mengusap kepala & punggungku. “Yach… ach… eeehmm”, desisnya berirama & sesaat kemudian saya makin merasakan liang senggamanya makin sempit & terasa makin menjempit kuat, gerakan tubuhnya makin liar.

Tangannya sudah meremas bantal & menarik kain sprei, sementara keringatku mulai menetes membasahi tubuhnya namun yang kunikmati saat ini adalah kenikmatan yang makin meningkat & luar biasa, lain dari yang kurasakan selama ini melalui masturbasi. Makin cepat, cepat, cepat & akhirnya kaki Sandra kembali mengunci punggungku & menariknya lebih ke dalam bersamaan dengan pompaanku yang terakhir & kami terdiam, sedetik kemudian.. “

Eeeggghhh…” jeritannya tertahan bersamaan dengan mengalirnya cairan nikmat itu menjalar di sepanjang kemaluanku dan, “Crooot… crooot”, memberikannya kenikmatan yang luar biasa. Sebaliknya bagi Sandra terasa ada semprotan kuat di dalam sana & memberikan rasa hangat yang mengalir & berputar serasa terus menembus ke dalam tiada berujung. Selesai sudah pertempuran namun kekakuan tubuhnya masih kurasakan, demikian juga tubuhku masih kaku.

Sesaat kemudian kuraih bantal yang tersisa, kulipat jadi dua & kuletakkan kepalaku di situ setelah sebelumnya bergeser sedikit untuk memberinya nafas agar beban tubuhku tak menindih paru-parunya namun tetap tubuhku menindih tubuhnya.

Kulihat senyum puasnya masih mengembang di bibir mungilnya & tubuhnya terlihat mengkilap licin karena keringat kami berdua.

Fran… thank you”, sesaat kemudian, “Ehmmm… Fran saya boleh tanya?” bisiknya perlahan.

Ya”, sahutku sambil tersenyum & menyeka keringat yang menempel di ujung hidungnya.

Aku… gadis keberapa yang kamu tidurin?” tanyanya setelah sempat terdiam sejenak. “Yang pertama”, kataku meyakinkannya, namun Sandra mengerenyitkan alisnya. “Sungguh?” tanyanya untuk meyakinkan.

Betul… keperawanan kamu saya ambil tapi perjakaku juga kamu yang ambil”, bisikku di telinganya. Sandra tersenyum manis.

San, thank you juga”, itu kata-kata terakhirku sebelum ia tidur terlelap kelelahan dengan senyum puas masih tersungging di bibir mungilnya & batang kemaluanku juga masih belum keluar tapi saya juga ikut terlelap. Cerita Sex Perawan 2018, cerita dewasa ngentu perawan, cerita ngentot tempek perawan, cerita seks perawan ngesex, cerita mesum perawan dientot, cerita panas kentu perawan, hot perawan kentu, perawan hot, cerita perawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*